Marsh Indonesia
www.marsh.comProducts
0
Product lines
0
Market signals
10
Products
Market Signals
ILUSTRASI. Inflasi medis yang tinggi dan meningkatnya tren penyakit kritis pada usia muda turut mendorong perubahan pada bisnis asuransi kesehatan. (Shutterstock/beda asuransi jiwa dan asuransi kesehatan)
Reporter: **Secillia Hafifah** | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi medis yang tinggi dan meningkatnya tren penyakit kritis pada usia muda turut mendorong perubahan pada bisnis asuransi penyakit kritis (critical illness) di industri asuransi jiwa.
Di satu sisi, kondisi tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan perlindungan asuransi.
Namun di sisi lain, kenaikan biaya perawatan juga meningkatkan nilai klaim dan mendorong penyesuaian premi asuransi.
Pengamat asuransi Irvan Rahardjo mengatakan, tingginya inflasi medis menjadi salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan klaim asuransi penyakit kritis.
Berdasarkan laporan Mercer Marsh Benefits (MMB), inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8%-17,9%.
Perlindungan Asuransi dan Investasi, Pahami Cara Kerja Nilai Tunai Unit Link (Foto: Freepik)
JAKARTA - Memiliki asuransi merupakan salah satu langkah penting dalam perencanaan keuangan untuk melindungi diri dan keluarga dari berbagai risiko kehidupan. Namun, agar perlindungan dapat memberikan manfaat secara optimal ketika dibutuhkan, nasabah juga perlu memahami bagaimana produk yang dimiliki bekerja, termasuk bagaimana nilai tunai pada Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI) atau yang dikenal sebagai unit link.
Sebab, (PAYDI) atau yang dikenal sebagai unit link dapat berubah dari waktu ke waktu dan berdampak pada polis asuransi milik nasabah.
Di sisi lain, tekanan terhadap biaya kesehatan juga terus meningkat. Berdasarkan Health Trends Report 2026 dari Mercer Marsh Benefits, inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8%, menjadi salah satu yang tertinggi di Asia.
JAKARTA, KOMPAS.com - Memiliki asuransi tidak berhenti pada kewajiban membayar premi secara rutin.
Nasabah juga perlu memahami bagaimana polis bekerja, termasuk bagaimana Nilai Tunai pada Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI) atau yang dikenal sebagai unit link dapat berubah dari waktu ke waktu.
Pemahaman tersebut menjadi semakin penting karena kebutuhan perlindungan dan kondisi keuangan seseorang dapat berubah selama masa pertanggungan.
**
**
Pada saat yang sama, biaya kesehatan juga terus mengalami peningkatan.
Berdasarkan _Health Trends Report 2026_ dari Mercer Marsh Benefits, inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8 persen. Angka tersebut menjadi salah satu yang tertinggi di Asia.
Sejalan dengan kenaikan biaya layanan kesehatan, pembayaran klaim kesehatan industri asuransi jiwa juga meningkat.
JAKARTA, KOMPAS.com – Kenaikan biaya layanan kesehatan menjadi tantangan yang semakin dirasakan masyarakat.
Mulai dari konsultasi dokter, pemeriksaan penunjang, obat-obatan, hingga rawat inap membutuhkan biaya yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Kondisi tersebut membuat perlindungan kesehatan menjadi salah satu instrumen penting untuk membantu masyarakat menghadapi risiko finansial ketika sakit datang secara tiba-tiba.
**
**
Berdasarkan laporan Health Trends 2026 dari Mercer Marsh Benefits, inflasi medis di Indonesia diperkirakan mencapai 17,8 persen.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi umum yang berada di kisaran 2,5 persen, bahkan menjadi yang tertinggi di Asia.
Tingginya inflasi medis menunjukkan biaya layanan kesehatan meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya hidup secara umum.
Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan terhadap keuangan rumah tangga apabila masyarakat belum memiliki perlindungan kesehatan yang memadai.
Media Asuransi, JAKARTA – Marsh Insurance Market Index Q2 2026 menunjukkan Indonesia berada dalam kondisi pasar yang lebih menguntungkan bagi pembeli. Hal itu seiring tarif asuransi komersial di Asia yang turun lima persen dan tarif global yang turun enam persen.
Mengutip Asia Insurance Market Index terbaru dari Marsh, yang juga memuat perkembangan pasar Indonesia dan implikasinya bagi dunia usaha, Senin, 3 Agustus 2026, menyebutkan di tingkat Asia, kondisi pasar tetap kompetitif.
“Dengan penurunan tarif pada lini properti minus lima persen, _casualty_ minus tiga persen, _financial and professional lines_ minus tujuh persen, dan siber minus delapan persen,” kata Marsh, dalam laporannya.
Untuk Indonesia, salah satu poin pasar yang terverifikasi adalah bahwa tarif _professional liability_ tetap stabil pada kuartal II/2026, sementara di sebagian besar pasar Asia justru mengalami penurunan.
Media Asuransi, GLOBAL – Nilai pasar broker dan agen asuransi global diperkirakan terus tumbuh dalam satu dekade ke depan. Laporan Global Market Insights memproyeksikan pasar ini mencapai US$653,4 miliar pada 2035, naik dari estimasi US$299,6 miliar pada 2026.
Melansir _Insurance Asia_, Selasa, 21 Juli 2026, pertumbuhan tersebut setara dengan rata-rata 9,1 persen per tahun (CAGR). Sebagai perbandingan, nilai pasar broker dan agen asuransi global pada 2025 tercatat sebesar US$276,5 miliar.
Menurut laporan itu, pertumbuhan pasar didorong oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha akan layanan konsultasi asuransi yang lebih personal. Selain itu, risiko yang semakin kompleks serta berkembangnya kanal distribusi digital juga ikut mendorong permintaan terhadap jasa broker dan agen.
Media Asuransi, JAKARTA – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) membeberkan sejumlah tantangan perlindungan kesehatan saat ini. Hal itu sejalan dengan dampaknya terhadap kinerja asuransi kesehatan di Tanah Air.
Direktur Eksekutif AAJI Emira E. Oepangat menyatakan World Health Organization (WHO) dalam Indonesia _moves forward on universal health coverage while addressing remaining gaps_ (2025) mengungkapkan sekitar 26,6 persen masyarakat Indonesia masih mengalami tantangan pembiayaan akibat pengeluaran kesehatan.
|Baca juga: [Liburan Nyaman Tidak Hanya soal Tiket dan Itinerary, Proteksi Juga Penting](https://mediaasuransinews.co.id/asuransi/liburan-nyaman-tidak-hanya-soal-tiket-dan-itinerary-proteksi-juga-penting/)
|Baca juga: [Industri Asuransi Berpeluang Ketiban ‘Durian Runtuh’ Rp1 Triliun Akibat Inflasi Kesehatan](https://mediaasuransinews.co.id/asuransi/industri-asuransi-berpeluang-ketiban-durian-runtuh-rp1-triliun-akibat-inflasi-kesehatan/)
“_Out of Pocket_ (OOP) rata-rata 36 persen atau Rp175 triliun,” kata Emira E. Oepangat Supangat, dalam sebuah diskusi, dikutip Kamis, 9 Juli 2026.
[Home](https://wartaekonomi.co.id/ "Home") / [Kabar Finansial](https://wartaekonomi.co.id/category-parent-4/kabar-finansial "Kabar Finansial") / * Asuransi
Jum'at, 03 Juli 2026, 15:30 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Inflasi medis masih menjadi tantangan utama bagi keberlanjutan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Di tengah kenaikan biaya layanan kesehatan yang terus meningkatkan beban pembiayaan BPJS Kesehatan, besaran iuran peserta belum mengalami penyesuaian selama enam tahun terakhir.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty mengatakan, berdasarkan data Mercer Marsh Benefits dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), inflasi medis di Indonesia mencapai sekitar 17,8 persen dan 14,4 persen per Juni 2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi kelompok kesehatan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), yakni sebesar 1,84 persen.