Tugure
www.tugure.idProducts
0
Product lines
0
Market signals
19
Products
Market Signals
ILUSTRASI. PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) (DOK/IST)
Reporter: **Ade Priyatin** | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi potensi peningkatan klaim akibat bencana alam.
_Technical Analytic & Development Group Head_ Tugure Andriansyah mengatakan Indonesia merupakan negara rawan bencana sehingga risiko tersebut telah menjadi bagian dari pemetaan perusahaan dan bukan lagi kejutan dalam bisnis reasuransi.
Meski sebelumnya Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memprediksi bencana alam bisa meningkatkan klaim industri asuransi umum, tetapi dampak bencana terhadap industri reasuransi dinilai tidak bisa hanya dilihat dari besaran klaim industri secara keseluruhan.
"Yang menentukan apakah industri reasuransi terpukul atau tidak adalah net retention setelah retro," ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/9/26).
Entering mid-July 2026, the Indonesian insurance industry is witnessing several significant developments. These include the use of artificial intelligence (AI) to manage the surge in healthcare claims, increased attention to medical inflation, and innovations in the use of big data in reinsurance.
Here is a summary of the 7 news items that received the most attention.
1\. AI Becomes a New Weapon to Counter the Surge in Health Claims
PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) emphasized that Artificial Intelligence (AI) and Machine Learning will be one of the main solutions in maintaining the sustainability of the health insurance business.
The surge in claims driven by medical cost inflation requires insurance companies to be able to detect fraud, waste, and abuse more quickly. With AI-based analytics, companies can identify unusual claim patterns and improve the efficiency of the underwriting process.And claim management.
ILUSTRASI. Indonesia Re Berpartisipasi Dalam Kegiatan Expo Pengawasan Intern 2024 BPKP (Dok/Indonesia Re)
Reporter: Ade Priyatin | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku industri reasuransi memilih perkuat strategi penempatan investasi yang lebih konservatif di tengah tekanan pasar keuangan sepanjang semester pertama 2026.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengatakan portofolio perusahaan reasuransi umumnya ditempatkan pada instrumen yang relatif aman, likuid, dan sesuai dengan karakteristik kewajiban perusahaan.
Dengan kondisi pasar yang masih tertekan, ia menyebut kalau perusahaan reasuransi perlu memperhatikan sejumlah hal dalam menempatkan investasi.
"Perusahaan reasuransi perlu tetap menerapkan strategi investasi yang konservatif dan mengedepankan prinsip kehati-hatian" jelasnya kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).
ILUSTRASI. Paparan Kineraj dan Kenaikan Laba Tugu Insurance (KONTAN/Baihaki)
Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugu Re) mempertahankan strategi selektif dalam menerima risiko di tengah kondisi pasar reasuransi yang masih berada dalam fase soft market.
_Technical Analytic & Development_ Group Head Tugu Re Andriansyah mengatakan, strategi tersebut berdampak pada penurunan gross written premium (GWP) atau premi bruto perusahaan sekitar 15% secara tahunan (year on year/YoY) hingga kuartal II-2026.
Namun, ia menjelaskan bahwa penurunan tersebut bukan disebabkan berkurangnya aktivitas bisnis, melainkan karena perusahaan lebih ketat dalam menyeleksi risiko yang akan diterima.
“Kami lebih memilih menjaga kualitas portofolio daripada mengejar volume premi bruto,” ujarnya kepada Kontan, Senin (29/6/2026).
Bisnis.com, JAKARTA — PT Tugu Reasuransi Indonesia atau Tugure mengungkapkan beberapa syarat keberhasilan konsolidasi industri reasuransi. Cara-cara tersebut terbagi menjadi empat poin.
Direktur Operasional Tugure, Erwin Basri mengatakan Danantara kini sedang melakukan kajian terkait industri reasuransi yakni IndonesiaRe, NasRe, dan TuguRe. Untuk TuguRe sendiri, kepemilikannya 50,7% Pertamina/TPI dan Swasta 49,3%.
Syarat pertama adalah rekapitalisasi wajib. Maksudnya, ada suntikan modal segar dari Danantara/pemerintah bukan hanya penggabungan ekuitas. Sebab itu, konsolidasi tanpa rekapitalisasi akan sangat berbahaya.
“Kita bisa meningkatkan ekuitas kita minimal itu di Rp10 triliun untuk bisa bermain di Asia Tenggara. Paling enggak kita bisa bersaing dengan Malaysian Re, Thai Re dan sebagainya,” ujarnya dalam acara BIG Financial Insight di Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Media Asuransi, JAKARTA – Posisi Direktur Utama PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) masih belum terisi. Kekosongan ini terjadi setelah masa jabatan Teguh Budiman berakhir per 15 Mei 2026. Hingga berita ini ditulis Kamis, 21 Mei 2026, perseroan belum mengumumkan siapa sosok yang akan ditunjuk untuk memimpin perusahaan secara definitif.
Kekosongan ini terjadi setelah masa jabatan Teguh Budiman tidak diperpanjang oleh pemegang saham mulai per 15 Mei 2026.
|Baca juga: [Tugure Bukukan Kinerja Positif Sepanjang Tahun 2025](https://mediaasuransinews.co.id/gallery-photo/berita-foto/tugure-bukukan-kinerja-positif-sepanjang-tahun-2025/)
Berdasarkan surat pemberitahuan yang dikeluarkan oleh perseroan pada tanggal 18 Mei 2026 dan ditandatangani oleh Direktur Keuangan Tugure Dradjat Irwansyah menyebutkan bahwa berdasarkan keputusan pemegang saham tanggal 15 Mei 2025, susunan dewan komisaris dan direksi PT Tugu Reasuransi Indonesia adalah sebagai berikut:
|Baca juga: [TuguRe Kembali Adakan ‘Tribut to Women’](https://mediaasuransinews.co.id/gallery-photo/berita-foto/tugure-kembali-adakan-tribut-to-women/)
Dewan Komisaris:
Komisaris : Mustaqim : Ahmad Surya Darma :…
> Ringkasan Berita: > > Tugure Soroti Pentingnya Ketepatan Penetapan Sum Insured pada Business Interruption Insurance > Tugure menegaskan peran aktifnya dalam meningkatkan kesiapan industri perasuransian Indonesia dalam menghadapi risiko Business Interruption
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kapabilitas dan pengembangan wawasan pelaku industri perasuransian di Indonesia melalui program Tugure Academy.
Pada penyelenggaraan Sharing Session 2026, Tugure mengangkat topik Business Interruption: Gross Profit vs Revenue: Avoiding the Pitfalls of Misdeclared Sum Insured, yang membahas pentingnya pemahaman teknis dalam penetapan sum insured pada Business Interruption Insurance (BI).
[Home](https://wartaekonomi.co.id/ "Home") / [Kabar Finansial](https://wartaekonomi.co.id/category-parent-4/kabar-finansial "Kabar Finansial") / * Asuransi
Jum'at, 29 Mei 2026, 18:05 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) menyoroti pentingnya ketepatan penetapan nilai pertanggungan (_sum insured_) pada produk _Business Interruption Insurance_ (BI) di tengah meningkatnya kompleksitas risiko bisnis yang dapat mengganggu keberlangsungan operasional perusahaan.
Dalam kegiatan Sharing Session 2026 yang diselenggarakan melalui program Tugure Academy, Tugure menilai kesalahan dalam menentukan nilai pertanggungan berpotensi memicu kesenjangan perlindungan (_under-insurance_) maupun kelebihan pertanggungan (_over-insured_), yang pada akhirnya memengaruhi besaran pembayaran klaim ketika terjadi gangguan usaha.
Isu tersebut menjadi fokus utama diskusi bertajuk _Business Interruption: Gross Profit vs Revenue: Avoiding the Pitfalls of Misdeclared Sum Insured_ yang diikuti perwakilan dari 18 perusahaan asuransi mitra cedant.